Medannewstv.com – Sebanyak enam orang Balita di Sumatera Utara meninggal dunia diduga akibat kasus penyakit baru gagal ginjal akut (GGA). Saat ini sudah 11 kasus ditemukan dan tersebar di bebrapa rumah sakit. Rabu (19/10/22)
Pasca temuan ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) menyatakan telah melakukan tindakan penanganan, agar kasus gagal ginjal akut ini agar tidak bertambah dan meluas.
Diantaranya dengan memberi perhatian khusus ke seluruh jajaran di Kabupaten/ kota dan melakukan tindakan penanganan.
Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sumut Ilyas Sitorus mengatakan
dari catatan mereka kasus gagal ginjal akut ada 11 di Sumut, antara lain tujuh di Rumah Sakit Adam Malik dan empat di rumah sakit lain di Kota Medan.
“Dari jumlah tersebut enam kasus meninggal dan satu selamat,” ujarnya.
Kini Pemprov Sumut sudah melakukan berbagai tindakan seluruh kepala daerah sudah diberitahukan kemudian berkoodinasi dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL), Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dan instansi lainnya, agar melakukan kewaspadaan dini.
“Pemkab juga harus melakukan edukasi kepada semua lapisan masyarakat terkait apa-apa saja tanda tanda dari GGA tersebut agar tidak terlambat penanganannya. Yaitu antara lain, tidak bisa buang air kecil atau sedikit dan sulit,” jelasnya.
Saat ini menurut dia Dinas Kesehatan Provinsi Sumut tengah melakukan juga penyelidikan epidemiologi ke rumah sakit dan ke masyarakat, di mana wilayah tempat tinggal si pasien tersebut.
Jajaran Dinas Kesehatan Sumut menganjurkan juga kepada Dinkes Kabupaten/Kota agar melakukan surveilance dan penyelidikan epidemiologi masyarakat.
“Sesuai Imbauan Pak Gubernur jika ada anak yang sakit, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan, agar mendapat pelayanan medis secepatnya,” ucap Ilyas.
Kasus gangguan ginjal akut tidak hanya terjadi di Sumut, melainkan ditemukan di provinsi lain, bahkan di sejumlah negara di dunia.
Catantan kasus ini di Indonesia tercatat sebanyak 155 kasus kumulatif di 18 Provinsi, peningkatan sejak Juli sampai September, dan tertinggi di September 2022 dengan jumlah kasus 78 orang dan paling banyak pada usia 1-5 tahun sebanyak 75 orang dari total kasus 155 orang. (bas)











